Deep Blue
Laman Utama

Garuda Wisnu Kencana - World's Tallest Statue

[Copy link]

Author: chumpon       Show all posts   Read mode

Post time 4-8-2006 02:39 PM | Show all posts |Read mode
Thought I start this thread myself....We need to show the world what's coming up in our country.

This will be 145 m tall (only the statue) and visitors can go up all the way to the bird's eyes level for observation.  Built on top of the hill in Jimbaran, Bali - it will be visible from 20 km radius.  Arriving on Ngurah Rai airport will be a different experience - guaranteed.  Plan opening date is around 2006.  Project has been going on for about 4 years.

For more info, please go to

You have to go to the site to admire the scale of this project....While you are there, don't forget to visit the carved lime stone as well.



View Rating Log


Use magic Report

Post time 4-8-2006 09:16 PM | Show all posts

since official site GWK kene wat sementara waktu

Park of wonders a sombre site for ceremony

Visitors to Bali'Simon Schluter s Garuda Wisnu Kencana Cultural Park walk around the statue of Garuda.
Photo: Simon Schluter

By Steve Waldon
October 6, 2003

The clamorous street scenes of Kuta and Legian will be left far behind next Sunday when 1500 or more people find their way to a hilltop commemoration site more tranquil than the gaudy beachside districts.

The Garuda Wisnu Kencana Cultural Park is a place that lends itself far more readily to a reverential observance, which is certainly what is expected next weekend.

There is no getting around it: the friends and families of the victims of last year's bombings have had nearly 12 months to try to restart their lives, but this place will expose their emotional frailties once more.

It has both serenity and magnificence. Gigantic rectangles of rock stretch across the hillside, carved neatly as 40-metre leviathans. On top of these stone sentries, palms and wild grasses flutter in the humid breeze. Ferns spring resiliently from crevices.

Walking between them, the way opens on to a broad plaza of pavers and grassed squares.

Yesterday, the sense of majesty was interrupted by the sound of a powered lawn-edger, as a team of gardeners readied the spot where next Sunday's gathering will remember the dead and injured.

Overlooking this place is a huge statue of Garuda, no less imposing for being rendered in what looks like fibreglass. The bird has one quizzical eye and a sharp beak, and it stares down a wide stairway to the plaza.

Nearby, at the apex of the green hill, the Hindu god Wisnu gazes towards Denpasar. He has no arms, but water spills from his midriff.

There are some cultural imperatives at play: "Please do not enter for ladies during getting on period," reads a sign at the entrance to the Wisnu courtyard.

For those who believe their loved ones murdered last year are now in a better place, the sheer natural wonder of this site will seem appropriate.

For locals, the park is a work in progress. In the distance quarrying continues, with a gang of about 10 people chiselling away at the stone.

The selection of this site was inspired not just by the setting, but also by the impracticalities of conducting a service in the dusty laneways near the site of the Sari Club.

And although the Australians killed last year were willing participants in the nightlife of the beachside bars, trying to grieve while a grinning Ronald McDonald rides a surfboard nearby rather rules Kuta out on grounds of tone. So Wisnu and solemnity it will be.

For locals, the park is a work in progress. In the distance quarrying continues, with a gang of about 10 people chiselling away at the stone.

The selection of this site was inspired not just by the setting, but also by the impracticalities of conducting a service in the dusty laneways near the site of the Sari Club.

And although the Australians killed last year were willing participants in the nightlife of the beachside bars, trying to grieve while a grinning Ronald McDonald rides a surfboard nearby rather rules Kuta out on grounds of tone. So Wisnu and solemnity it will be.

reference : Park of wonders a sombre site for ceremony. The Age. Retrieved 2006, Aug 4, from the World Wide Web:



View Rating Log


Use magic Report

Post time 4-8-2006 09:31 PM | Show all posts

Use magic Report

Post time 4-8-2006 09:36 PM | Show all posts
Garuda Wisnu Kencana (GWK) park

Garuda Wisnu Kencana Park is designed as a culturally themes park, which differs considerably from the theme park of west. The primary objective in design is to achieve the cultural integrity of Balinese tradition through the visual and performing arts. The Garuda Wisnu Kencana project is provided with an art and cultural hub, which is designed more attractively with its combination of entertainment facilities that will present Balinese legends and performances in the modern expression.

The central feature to the park is the Garuda Wisnu statue. Symbolizing Wisnu, the Hindu-Balinese god of life and peace, astride the godly eagle Garuda. 146 meters above the Peninsula and 283 meters above the Indian Ocean. A technological dream of mythical proportion, built by a son of Indonesia, with technology from Indonesia.

Within a cultural theme park of 230 hectares with complete tourist facilities, the Garuda Wisnu Kencana park will, in the eyes of the world, bears symbol of Bali's magical past and be the beacon of it's bright and promising feature. Magnificent panoramas, the maze of steel and cooper forged into a massive shape of a god will combined with facilities to educate, and Balinese cultural events to entertain, will create a unique experience.

The Traditional and Contemporary arts of Bali have become globally recognized and appreciated by the art world at large. Garuda Wisnu Kencana will become the sophisticated forum for international artist. The GWK Gallery, audiovisual center and art library will become the center of planned activities to increase the viability of international dialog to the global art community.

reference : Balinese Parks. Budget Bali. Retrieved 2006, Aug 4, from the World Wide Web:



View Rating Log


Use magic Report

Post time 4-8-2006 10:07 PM | Show all posts
... salam ...
... bile lah nak pat peluang gi sana ...
... musti best ...
... salam ...

Use magic Report

Post time 5-8-2006 01:06 PM | Show all posts
mmm kalau p'puan tgh period xleh gi .....
sebb per ek??
sure tension giler ......

Use magic Report

Post time 5-8-2006 08:10 PM | Show all posts
... salam ...
... so jgn la gi siti tgh tut ...
... ku mmg nak tgk sgt ...
... ade rezeki ku jalan la bali ...
... salam ...

Use magic Report

Post time 7-8-2006 01:17 PM | Show all posts

Oleh Putri Nastiti

Bandung (ANTARA News) - Seseorang yang memasuki kawasan Kompleks Setra Duta Bandung Utara agaknya tak perlu kaget jika melihat patung tangan berukuran besar. Patung tersebut dibuat oleh salah seorang pematung Indonesia yang sejak beberapa lama tinggal di kompleks tersebut.

Nyoman Nuarta, pria kelahiran Bali 14 November 1951, sudah sejak 30 tahun tinggal di Bandung. Lelaki bertubuh bongsor itu pun mengakui, sangat mencintai Kota Bandung yang sejuk dan asri.

Ia juga memperlihatkan antusiasmenya membicarakan lingkungan "sculpture park" (taman pahatan) karyanya yang penuh dengan pepohonan.

Dia langsung mengatakan, di Bandung sudah sangat sedikit tempat yang sejuk dan asri, sehingga ia sengaja memanfaatkan empat hektare tanahnya dipenuhi banyak tanaman sekaligus memiliki wahana kunjungan, seperti museum, studio dan kafe.

"Biar orang yang datang ke sini menikmati sejuknya alam dan menghirup oksigen yang bersih," katanya kepada ANTARA News.

Ketertarikannya kepada "Kota Kembang" dimulai ketika 1971 datang ke Bandung yang sejuk, dan sampai akhirnya memutuskan menetap, serta meninggalkan Bali.

"Sayang, sekarang orang Bandung yang merupakan orang sunda yang dikenal dekat dengan alam sudah melupakan alamya. Lihat betapa semerawutnya alam Kota Bandung. Belum lagi kondisi ekonomi dan politik yang membuat runyam semua," ujarnya.

Nyoman mengatakan, jika melihat kondisi Indonesia yang saat ini dalam kondisi curat marut di mata dunia masyarakat internasional, maka hanya kebudayaanlah yang bisa mengharumkan dan mengangkat nama Indonesia,

"Kebudayaan adalah sesuatu yang sangat penting. Kita harus dapat mengembangkan berbagai kebudayaan untuk menjadi satu kesatuan kebudayaan nasional yang harus diangkat ke kebudayaan universal atau internasional," katanya.

Ia menimpali, "Elemen kebudayaan, seperti estetika, agama dan bahasa harus menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Nah, sari kebudayaan itu adalah kesenian yang merupakan ekspresi setiap orang. Jika pada akhirnya dikomersilkan, maka hal itu lain lagi ceritanya."

Suami dari Cyntia Laksim itu pun menyatakan, prihatin atas pemberitaan tentang Indonesia di luar negeri yang terlalu banyak mengekspos keterpurukan ekonomi dan politik yang sedang terjadi, semisal banyaknya kasus korupsi, terorisme dan ketidakstabilan keamanan.

"Katanya Indonesia sebagai bangsa yang besar dalam beragama dan berbudaya, tetapi mana kenyataannya?," ujar Nyoman.

Indonesia, lanjut Nyoman, memiliki berbagai macam kebudayaan yang dapat dikembangkan secara optimal, tetapi tentunya tidak terlepas dari peranan pemerintah.

Sayangnya, Komeng --nama panggilan akrab Nyoman-- menilai, sistem yang berlaku di Indonesia masih kurang memperhatikan para senimannya.

"Sistem seolah tidak percaya kepada senimannya, padahal prestasi mendunia dapat mencul dari mereka," ujar Nyoman.

Pria yang pernah membuat patung dwi-tunggal Proklamator Kemerdekaan RI, Soekarno Hatta, di Gedung Proklamasi Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, itu mengatakan bahwa kebudayaan dapat menjadi satu kekuatan untuk menampakkan kepercayaan diri.

"Sangat tidak mustahil pada akhirnya hasil dari kebudayaan itu dapat menjadi transaksi kekuatan ekonomi," katanya.

Nyoman mengatakan, banyaknya sentra kesenian yang tersebar di Indonesia tidak berkembang. "Itu karena `gak` ada uang. Pinjam ke bank `aja` kami tidak bisa," kata Nyoman, yang sudah menghasilkan ratusan karya patung dan sering dipamerankan di luar negeri.

"Apa kami harus `ngomel-ngomel` nunggu bantuan pemerintah? Tentu tidak harus selalu. Kami akhirnya berjuang sendiri-sendiri untuk menunjukkan partisipasi kebudayaan dengan cara kami sendiri," tegasnya.

Tetapi, Nyoman mengakui, partisipasi dan perhatian pemerintah merupakan modal terbesar para seniman.

Nyoman menceritakan, ketika Presiden Susilo Bambang Yodhoyono berkunjung ke "Culture Park" (taman budaya) Garuda Wisnu Kencana di Bali beberapa waktu lalu mengatakan bahwa rencana pembangunan kawasan seperti itu adalah impiannya.

Tetapi, Nyoman menilai, sangat disayangkan ketika mengajukan waktu untuk melakukan presentasi di hadapan SBY, ternyata tidak ada tanggapan sama sekali.

"Ada orang-orang `Istana` yang menjadi pembisik tidak bertanggung jawab kepada presiden. Jadi, harapan saya, Pak SBY tanya langsung kepada saya tentang pembangunan `Culture Park` ini," tegasnya.

Nyoman bertutur, di negara-negara yang mengedepankan kebudayaan mempunyai satu galeri, museum ataupun lokasi konvensi seni yang hebat untuk para senimannya.

Oleh karena itu, ia menilai, Indonesia sudah saatnya memiliki galeri atau museum seperti itu yang berstandar internasional.

Jadi, katanya, para penguasa negara di Indonesia bisa mempunyai "peluru" yang dapat "ditembakan" ek masyarakat internasional melalui wahana kebudayaan yang saat ini masih belum dipunyai. "Saat ini apa yang bisa ditembakkan oleh para duta besar atau diplomat kita?," katanya bernada tinggi.

Nyoman mencontohkan, Amerika Serikat (AS) melalui industri filmnya mampu membuatnya menjadi salah satu produk budaya mereka. "Amerika punya budaya tersendiri yang bagus, tetapi kalau dibandingkan dengan Indonesia tentu saja kita memiliki budaya yang lebih bagus," ujarnya.

Ia menimpali, "Tetapi, jangan salah dalam setiap produk filmnya yang sudah menjadi industri banyak terselip budaya Amerika yang banyak diserap masyarakat Internasional."

"Penggunaan celana blue jeans itu tidak lepas dari kebudayaan Amerika tetapi sekarang hampir setiap orang di dunia memakai blue jeans. Itu artinya kebudayaan Amerika sudah sangat dikenal banyak orang"katanya.

Nyoman yang sudah sangat mengerti bahasa sunda ini mengatakan orang Indonesia sangat bangga akan hasil bumi seperti tambang,gas dan minyaknya. "Tetapi, jika tidak punya strategi untuk mengelolanya, buat apa?," katanya.

Ia pun berujar, "Kita harusnya malu, kita hanya bisa mengeruk hasilnya tanpa bisa menjaga dan melestarikan. Kita hanya bisa mengambil barang mentahnya saja. Seperti mengambil hasil hutan kayu tanpa bisa menanam lagi. Itu kan memalukan. Nyaris seperti simpanse yang hanya bisa makan daun atau buah, tapi tidak bisa menanam. Harusnya daya intelektualnya yang dibanggakan."

Nyoman pun secara tegas juga mengecam tindakan-tindakan sebagian orang yang mengatasnamakan agama, tetapi berlaku seperti setan.

"Saat ini kita sudah dijajah oleh ekonomi, sepertinya ekonomi itu adalah segala-galanya. Tahun 1980-an, kita adalah negara yang kaya, tetapi karena tidak bijak, maka sekarang kita menjadi miskin," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, pembangunan budaya harus juga menjadi perhatian utama pemerintah, karena saat ini sudah bergeser jauh dari esensi budaya yang sebenarnya.

Ketika ditanyakan mengenai Culture Park Garuda Wisnu Kencana (CPGWK), Nyoman Nuarta, yang menjadi penggagas utama pembangunannya di bukit Unggasan Jimbaran Bali itu mengatakan, proyek tersebut baru berjalan 15 persen.

Meskipun begitu, ia mengemukakan, kawasan tersebut telah membuat ratusan ribu orang berkunjung lantaran penasaran ingin melihat patung yang konon jika sudah selesai pembuatannya akan melebihi tingginya patung "Liberty" di Amerika Serikat (AS) yang setinggi 86 meter.

Patung GWK mempunyai sayap patung sepanjang 66 meter dan seberat 4.000 ton, atau lima kali lipat dari patung "Liberty".

Kelak jika patung setinggi 146 meter di permukaan tanah dan 283 meter di atas permukaan laut (dpl) usai dibuat, maka akan terlihat dari radius pandang sekira 20 km.

Nyoman mengatakan, kunjungan per hari ke CPGWK tercatat rata-rata 1.500 pengunjung bertiket senilai R 20.000. Dalam waktu-waktu tertentu, seperti musim liburan, maka pengunjung yang datang bisa mencapai 5.000 orang setiap harinya.

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang pada akhir tahun 1980-an dibuat Nyoman belum semuanya kelar. Saat ini hanya kepala dan bahu Dewa Wisnu saja yang sudah terpajang di CPGWK, sedangkan bagian patung lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Nyoman mengatakan, pada saat ide awal pembuatan patung itu diperkirakan membutu*kan biaya senilai Rp9,5 Milyar, tetapi lantaran terjadi kenaikan harga bahan baku membuat pembiayaan menjadi membengkak 400 persen, sehingga dibutu*kan biaya hampir Rp39 miliar.

Tetapi, menurut dia, untuk pembiayaan seluruh kawasan CPGWK di lahan seluas 88.000 meter diperkirakan akan membutu*kan biaya senilai Rp700 miliar.

Nyoman menjelaskan, untuk penyangga patung atau "pedestal" akan dibangun beberapa ruangan, seperti ruang pertemuan dan ruang pameran yang berkapisitas 12.000 orang di lahan seluas sembilan hektar.

"Di sini seluruh seniman Indonesia dapat menggunakan galeri, museum ataupun ruang pertemuan untuk menggelar dan mempromosikan hasil karyanya, sehingga CPGWK ini dapat menjadi pusat kebudayaan Indonesia yang mungkin terbesar di Indonesia," jelasnya.

Nyoman juga mengatakan, akan membuka peluang sebesar-besarnya kepada seniman dunia untuk menggelar hasil karyanya di lokasi tersebut.

Ia menjelaskan, orang yang termasuk penggagas utama CPGWK adalah I Bagus Oka, I Bagus Mantra, dan IB Sudjana yang tergabung dalam Yayasan GWK dengan pengembang bangunan/wilayah Garuda Adimatra Indonesia (GAIN).

"Tujuan utamanya bukan pembuatan patung GWK, tetapi `Culture Park` yang mendukung patung tersebut sekaligus dapat menjadi lahan yang dapat dijadikan ajang bersaing dalam perebutan bisnis konvensi atau grup internasional," kata Nyoman, yang lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Tekhnologi Bandung (ITB) pada 1979.

Untuk terwujudnya kawasan CPGWK dan program "World Culture Forum" (forum kebudayaan dunia), Nyoman Nuarta sangat mengharapkan, niat baik dari pemerintah, meskipun dianggapnya untuk saat ini masih sangat sulit.

Use magic Report

Post time 7-8-2006 01:18 PM | Show all posts
Presiden Minta Pembangunan Garuda Wisnu Kencana Selesai 2008

Jimbaran, Bali, Sabtu

Kirim Teman | Print Artikel

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) Culture Park yang pembangunannya telah dimulai sejak 17 tahun silam dapat selesai pada tahun 2008 bertepatan dengan seabad hari Kebangkitan Nasional.

"Kita bulatkan tekad mewujudkan prakarsa besar Garuda Wisnu Kencana jadi kenyatakan tidak lama lagi," kata Presiden Yudhoyono saat meninjau proyek GWK Culture Park di Jimbaran Bali, Sabtu.

Turut serta dalam rombongan presiden antara lain Menbudpar Jero Wacik, Kapolri Jendral (Pol) Sutanto, Menlu Hassan Wirajuda dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Hadir pula pengurus Yayasan GWK I Made Mangku Pastika dan Joop Ave serta perupa I Nyoman Nuartha yang juga salah satu penggagas proyek tersebut.

Sebelum memberikan sambutan, Presiden Yudhoyono mendengarkan presentasi I Nyoman Nuartha mengenai proyek pembangunan patung GWK setinggi 145 meter dari permukaan tanah di Jimbaran yang berada di semenanjung Bali selatan itu, hingga kini penyelesaiannya baru mencapai 15 persen.

Nyoman Nuartha mengatakan, pembuatan patung GWK itu diperkirakan sedikitnya menelan biaya Rp600 miliar.

Usai mendengarkan presentasi GWK itu, Presiden mengatakan harapannya agar dana itu bisa dimobilisasi dan mengajak seluruh pihak untuk mewujudkan proyek tersebut.

Ia percaya dengan tekad yang besar serta kerja keras maka proyek akbar yang megah, indah dan bersejarah itu akan terwujud pada satu abad Kebangkitan Nasional Indonesia.

Menurut Presiden, proyek GWK tidak hanya memberikan sumbangan bagi peradaban Indonesia tetapi juga bagi dunia.

Proyek itu, kata Presiden, jika berhasil maka akan mendatangkan manfaat yang besar baik bagi Bali maupun Indonesia dari segi ekonomi, pariwisata maupun budaya.

"Nantinya bisa juga dilaksanakan culture forum dunia," ujar Presiden.

Presiden juga berharap Forum Budaya Dunia dapat dilaksanakan di kawasan seluas 100 hektar itu, dengan kemegahan setara World Economic Forum di Davos, Swiss di mana pimpinan dunia dapat berdiskusi dan berseminar membahas masalah ekonomi global. Diharapkan Presiden Yudhoyono, dalam Forum Budaya Dunia juga akan dibahas ilmu pengetahuan dan budaya.

Forum Kebudayaan Dunia itu, lanjut Presiden, juga diharapkan jadi bulan pariwisata Indonesia.

"Usai pelaksanaannya, diharapkan peserta bisa menikmati keindahan obyek wisata Bali dan Indonesia," kata Presiden.

Use magic Report

Post time 25-3-2011 11:55 AM | Show all posts
erk.. sorry sbb active kan thread lame.. cume nk tanye ar... Garuda Wisnu Kencana ni dah siap ke lom? skrng dah 2011 dah lol

Use magic Report

Post time 25-3-2011 02:22 PM | Show all posts
Berhala terbesar di dunia di negara dengan penduduk islam teramai...
Patung buddha terbesar di asia tenggara di negeri serambi Makkah..

dunia sekarang mmg pelik.

Use magic Report

Post time 25-3-2011 03:10 PM | Show all posts
mintak2 kne sambar petir la cam kat US aritu.. biar tbako..

Use magic Report

Post time 26-3-2011 12:39 AM | Show all posts
Reply 12# BrotherFlash

ooh..yang patung Jesus tadah ke langit hangus tu eh? apsal la negara Islam teramai ni kuat btol pengaruh Hindu Jawanya nih....

Use magic Report

Post time 26-3-2011 03:47 AM | Show all posts
Reply 13# zaharul_asriq94

kan kengkonon mereka ni nak hidupkan balik ala ala zaman majapahit dolu.

Use magic Report

Post time 26-3-2011 11:15 AM | Show all posts
Reply 14# winamp05

majapahit ke majatawar ker, kalau dh Islam jgn pulok terkenang zaman Jahiliah duluuuu

Use magic Report

Post time 26-3-2011 11:47 AM | Show all posts
Reply  BrotherFlash

ooh..yang patung Jesus tadah ke langit hangus tu eh? apsal la negara Islam teramai ni kuat btol pengaruh Hindu Jawanya nih....
zaharul_asriq94 Post at 26-3-2011 00:39

kenapa kalau kuat jawa salah ke? kita kuat kemelayuan tak salah pun.

Use magic Report

Post time 26-3-2011 11:48 AM | Show all posts
Post Last Edit by zaharul_asriq94 at 26-3-2011 11:49

Reply 16# manap77

jawa takpe....jgn Hindu Jawa time Majapahit dulu...walaupun dh Islam tpi pengaruh bukan Islam msih kuat...

Use magic Report

Post time 26-3-2011 02:24 PM | Show all posts
bali ni mmg majoriti hindu. bukan islam.

Use magic Report

Post time 26-3-2011 03:33 PM | Show all posts
nanti bulan 6 ni wa gi bali , wa gi check lawat tapak site.. untung leh jumpa cewek

Use magic Report

Post time 26-3-2011 04:54 PM | Show all posts
Reply 18# thessailly

bali mmg ramai hindu yer? patutlah ada pengaruh garuda Vishnu...

Use magic Report

Post time 26-3-2011 08:10 PM | Show all posts
Reply 13# zaharul_asriq94

   Ha'ah, yg tu ler pe lg bai.. aq rase sampai berjuta dolar deme bwt patung beso sbijik tu.. last2 kene sambor tbako jgk.. bwt rugi ajer bwt.. hehehhe
yg indon ni pun satu.. dah ler pi bwt patung obama.. pasni tambah patung lg beso plak dah.. ntah ape la nk jd next time indon nih.. bala, bala, bala..... xke bala nmnyer tuu

Use magic Report

Post time 27-3-2011 12:27 AM | Show all posts
Reply 21# BrotherFlash

indon kaya dgn patung dongg

Use magic Report

Post time 28-3-2011 12:39 AM | Show all posts
xnak aku pgi sane nnti kene sambar petir

Use magic Report

Post time 28-3-2011 02:34 PM | Show all posts
gie mana sih... barhalanya kok sampean ke hari ini udah disiapin ato belum? bisa umat bali menyembah terhadap barhala tersabut...

Use magic Report

Post time 13-12-2011 07:55 PM | Show all posts
ni da bulan 12 da.. da siap blom bnda ni?

Use magic Report

You have to log in before you can reply Login | Register | Facebook Login

Points Rules

Get it FREE Apple App Store
Get it FREE Google play
Copyright © 1996-2018 Cari Internet Sdn Bhd All Rights Reserved(483575-W)
0.113214s Gzip On
Quick Reply To Top Return to the list